May 7, 2016

SMART NURSE --- SINDROM KOMPARTEMEN

A. Konsep Dasar Penyakit

1. Anatomi Kompartemen 
Daerah ekstermitas memiliki banyak kompartemen yang didalamnya terdapat otot,saraf,dan pembuluh darah. Itu semua diselubungi oleh membran yang keras dan tidak elastis yang disebut dengan fasia. Kompartemen sindrom terjadi apabila terjadi peningkatan tekanan dalam kompartemen. (ENA,2000:533)


2. Definisi
Sindrom Kompartemen merupakan suatu kondisi yang bisa mengakibatkan kecacatan hingga mengancam jiwa akibat terjadi peningkatan tekanan interstitial dalam sebuah ruangan terbatas  yakni kompartemen osteofasia yang tertutup. Sebagian besar terjadi pada daerah lengan bawah dan kaki. Sehingga mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan. (ENA,2000:533)

 Gambar 2 : CS. Ekstermitas atas
     



    Gambar 2: CS. Ekstermitas bawah    

                                 
3. Etiologi
Terdapat berbagai penyebab dapat meningkatkan tekanan jaringan lokal yang kemudian memicu timbullny sindrom kompartemen, yaitu antara lain:
1.  Penurunan volume kompartemen
     Kondisi ini disebabkan oleh:
     •    Penutupan defek fascia
     •    Traksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas
2.  Peningkatan tekanan eksternal
     •    Balutan yang terlalu ketat
     •    Berbaring di atas lengan
     •    Gips
3.  Peningkatan tekanan pada struktur komparteman
     Beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini antara lain:
     •    Pendarahan atau Trauma vaskuler
     •     Peningkatan permeabilitas kapiler
     •     Penggunaan otot yang berlebihan
     •     Luka bakar
     •     Operasi
     •     Gigitan ular
     •     Obstruksi vena
Sejauh ini penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah cedera, dimana 45 % kasus terjadi akibat fraktur, dan 80% darinya terjadi di anggota gerak bawah.

4. Manifestasi Klinis
1. Pain (nyeri) : nyeri yang hebat saat peregangan pasif pada otot-otot yang  terkena,  ketika ada trauma langsung. Nyeri merupakan gejala dini yang paling penting. Terutama jika munculnya nyeri tidak sebanding dengan keadaan klinik (pada anak-anak tampak semakin gelisah atau memerlukan analgesia lebih banyak dari biasanya). Otot yang tegang pada kompartemen merupakan gejala yang spesifik dan sering.
2. Pallor (pucat), diakibatkan oleh menurunnya perfusi ke daereah tersebut.
3. Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi )
4. Parestesia (rasa kesemutan)
5. Paralysis : Merupakan tanda lambat akibat menurunnya sensasi saraf yang berlanjut dengan hilangnya fungsi bagian yang terkena kompartemen sindrom.

5. Patofisiologi
Peningkatan tekanan jaringan menyebabkan obstruksi vena dalam ruang yang tertutup. Peningkatan tekanan secara terus menerus menyebabkan tekanan arteriolar intramuskuler bawah meninggi. Pada titik ini, tidak ada lagi darah yang akan masuk ke kapiler sehingga menyebabkan kebocoran ke dalam kompartemen, yang diikuti oleh meningkatnya  tekanan dalam kompartemen.  Penekanan terhadap saraf perifer disekitarnya akan menimbulkan nyeri hebat. Bila terjadi peningkatan intrakompartemen, tekanan vena meningkat. Setelah itu, aliran darah melalui kapiler akan berhenti. Dalam keadaan ini penghantaran oksigen juga akan terhenti, Sehingga terjadi hipoksia jaringan (pale). Jika hal ini terus berlanjut, maka terjadi iskemia otot dan nervus, yang akan menyebabkan kerusakan ireversibel komponen tersebut.
Pohon Masalah Terlampir.

6. Klasifikasi 
Berikut merupakan klasifikasi sindrom kompartemen berdasar penyebabnya :
1.  Sindrom kompartemen Intrinsik : merupakan sindrom kompartemen yang berasal   dari dalam tubuh,seperti : pendarahan,fraktur.
2. Sindrome kompartemen ekstrinsik : merupakan sindrome kompartemen yang berasal dari luar tubuh : gift, penekanan lengan terlalu lama.

7. Pemeriksaan Diagnostik
1. Kreatinin ginjal : sebagai penentu tingkat kerusakan jaringan.
2. Blood urea nitrogen (BUN) 
3. Pemeriksaan darah lengkap
4. Pemeriksaan urin

8. Komplikasi
Sindrom kompartemen jika tidak mendapatkan penanganan dengan segera, akan menimbulkan berbagai komplikasi antara lain:
• Nekrosis pada syaraf dan otot dalam kompartemen
• Kontraktur volkman, merupakan kerusakan otot yang disebabkan oleh  terlambatnya penanganan sindrom kompartemen sehingga timbul deformitas pada tangan, jari, dan pergelangan tangan karena adanya trauma pada lengan bawa.
• Trauma vascular
• Gagal ginjal akut
• Sepsis
• Acute respiratory distress syndrome (ARDS)

9. Penatalaksanaan Kegawatdaruratan dan terapi pengobatan
- Singkirkan semua tekanan dari luar.
- Hilangkan hal-hal yang mengganggu sirkulasi
- Hindarkan penggunaan kompres es,karena akan mengakibatkan vasokontriksi.
- Hindarkan meninggikan ekstermitas : bisa memperburuk aliran arteri.
- Siapkan dan bantu hal-hal yang dapat meminimalisasi fraktur jika diindikasikan.
- Berikan analgetik bila diinstruksikan.
- Siapkan untuk oprasi faciotomi untuk memperbaiki fungsi neuromuscular.
- Berikan pengetahuan pada pasien dan keluarga. (ENA,2000 : 534)


B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Primer Assessment
a. Data Subyektif
Keluhan utama                  : -
Riwayat Penyakit saat ini    : -
Riwayat sebelumnya : riwayat fraktur ekstermitas, hipotermi,gigitan ular,luka bakar, 

b. Data Obyektif
Airway      : -
Bhreating  : -
Circulation : nadi tidak teraba.
Disability   : Paralysis,parastesia

2. Sekunder Assessment
a. Eksposure               : -
b. Full set of vital sign  : hipertensi
c. Give comfort           ; pain assessment
d. Head To Toe           : oedema pada ektremitas

2. Diagnosa
a. Gangguan perfusi jaringan b/d peningkatan tekanan intrakompartemen ditandai dengan rasa kesemutan,oedema.
b. Nyeri b/d peningkatan tekanan kompartemen dan iskemik jaringan ditandai dengan keluhan nyeri.
c.Ansietas b/d krisis situasional ditandai dengan pasien tampak ketakutan,gelisah

3.  Intervensi Emergency

NO
DX
TUJUAN & KRITERIA HASIL
INTERVENSI
RASIONAL
1
Tujuan :
Setelah diberika askep selama  1 x ... menit diharapkan perfusi jaringan menjadi adekuat.
Kriteria Hasil :
-       Nadi teraba.
-       Px. Tidak mengeluh kesemutan
-       Px tidak tampak pucat
-       Tidak ada nyeri (skala 0-3)
-       Tidak terjadi paralisis
-       Awasi Tanda-tanda vital.
-       Singkirkan semua tekanan dari luar
-       Hindarkan penggunaan kompres es.
-       Siapkan untuk operasi fasiotomi.
-       Berikan cairan IV
-          Indikator umum status sirkulasi dan keadekuatan perfusi.
-          Untuk memperlancar sirkulasi
-          Untuk mencegah konstriksi pembuluh darah.
-          Untuk memperbaiki fungsi neuromuscular
-          Mempertahankan volume sirkulasi untuk memaksimalkan perfusi jaringan.

2
Tujuan :
Setelah diberika askep selama  1 x ...  Jam diharapkan nyeri berkurang.
Kriteria Hasil :
-       Px melaporkan nyerinya berkurang baik secara verbal maupun non verbal.
-       Tidak ada nyeri (skala 0-3)
-       TTV dalam batas normal (TD: 140-120/90-60 mmHg, N : 60-100x/menit, RR:16-24x/menit, S: 36,5-37,30 c)

-          Kaji skala nyeri PQRST.
-          Kaji TTV.
-          Kolaboratif pemberian analgetik.
-          Memberikan informasi sebagai dasar dan pengawasan keefektifan intervensi.
-          Mengetahui tanda-tanda nyeri.
-          Menurunkan sensasi nyeri.
3
Tujuan :
Setelah diberikan askep selama 1 x ... jam diharapkan rasa cemas menurun sampai dapat ditangani
Kriteria Hasil :
-          mengakui dan mendiskusikan rasa takut.
-          Menunjukkan rentang perasaan yang tepat.
-          Pasien melaporkan tidak merasa cemas lagi.

-          Berikan pengetahuan pada pasien dan keluarga mengenai perjalanan penyakit dan prosesdur tindakan.
-          Untuk memberikan pengetahuan pada pasien dan keluarga agar cemas berkurang.
Materi selengkapnya dapat download disini : COMPARTEMEN

Pathway sindrom compartemen dapat download disini : PATHWAY

SMART NURSE --- DEFINISI
Sindroma Down (Trisomi 21, Mongolisme) adalah suatu kelainan kromosom yang menyebabkan keterbelakangan mental (retardasi mental) dan kelainan fisik. 


PENYAKIT TRISOMI

Penyakit
Angka kejadian
Kelainan
Keterangan
Prognosis
Trisomi 21
(Sindroma Down
1 dari 700 bayi baru lahir
Kelebihan kromosom 21
Perkembangan fisik & mental terganggu, ditemukan berbagai kelainan fisik
Biasanya bertahan sampai usia 30-40 tahun
Trisomi 18
(Sindroma Edwards)
1 dari 3.000 bayi baru lahir
Kelebihan kromosom 18
Kepala kecil, telinga terletak lebih rendah, celah bibir/celah langit-langit, tidak memiliki ibu jari tangan, clubfeet, diantara jari tangan terdapat selaput, kelainan jantung & kelainan saluran kemih-kelamin
Jarang bertahan sampai lebih dari beberapa bulan; keterbelakangan mental yg terjadi sangat berat
Trisomi 13
(Sindroma Patau)
1 dari 5.000 bayi baru lahir
Kelebihan kromosom 13
Kelainan otak & mata yg berat, celah bibir/celah langit-langit, kelainan jantung, kelainan saluran kemih-kelamin & kelainan bentuk telinga
Yg bertahan hidup sampai lebih dari 1 tahun, kurang dari 20%; keterbelakangan mental yg terjadi sangat berat


PENYEBAB
Penyebabnya adalah ekstra tiruan pada kromosom ke 21. 


GEJALA
Anak-anak yang menderita sindroma Down memiliki penampilan yang khas: 
- Pada saat lahir, ototnya kendur 
- Bentuk tulang tengkoraknya asimetris atau ganjil 
- Bagian belakang kepalanya mendatar 
- Lesi pada iris mata yang disebut bintik Brushfield 
- Kepalanya lebih kecil daripada normal (mikrosefalus) dan bentuknya abnormal 
- Hidungnya datar, lidahnya menonjol dan matanya sipit ke atas 
- Pada sudut mata sebelah dalam terdapat lipatan kulit yang berbentuk bundar (lipatan epikantus) 
- Tangannya pendek dan lebar dengan jari-jari tangan yang pendek dan seringkali hanya memiliki 1      garis tangan pada telapak tangannya 
- Jari kelingking hanya terdiri dari 2 buku dan melengkung ke dalam 
- Telinganya kecil dan terletak lebih rendah 
- Diantara jari kaki pertama dan kedua terdapat celah yang cukup lebar 
- Gangguan pertumbuhan dan perkembangan (hampir semua penderita sindroma Down tidak pernah    mencapai tinggi badan rata-rata orang dewasa) 
- Keterbelakangan mental. 
- Pada bayi yang menderita sindroma Down sering ditemukan kelainan jantung bawaan. Kematian dini seringkali terjadi akibat kelainan jantung. 
- Kelainan saluran pencernaan, seperti atresia esofagus (penyumbatan kerongkongan) dan atresia duodenum (penyumbatan usus 12 jari), juga sering ditemukan. 
- Mereka juga memiliki resiko tinggi menderita leukemia limfositik akut. 


DIAGNOSA
Diagnosis sindroma Down dapat ditegakkan ketika bayi masih berada dalam kandungan dan tes penyaringan biasanya dilakukan pada wanita hamil yang berusia diatas 35 tahun. 
Kadar alfa-fetoprotein yang rendah di dalam darah ibu menunjukkan resiko tinggi terjadinya sindroma Down pada janin yang dikandungnya. 
Dengan pemeriksaan USG bisa diketahui adanya kelainan fisik pada janin. 
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. 
Dengan bantuan stetoskop akan terdengar murmur (bunyi jantung tambahan). 

Pemeriksaan yang biasa dilakukan: 
- Analisa kromosom (pada 94% kasus menunjukkan adanya 3 tiruan dari kromosom ke 21) 
- Rontgen dada (untuk menunjukkan adanya kelainan jantung) 
- Ekokardiogram 
- EKG 
- Rontgen saluran pencernaan. 


PENGOBATAN
- Tidak ada pengobatan khusus untuk sindroma Down. Pendidikan dan pelatihan khusus bisa dilakukan di sekolah luar biasa. 
- Kelainan jantung tertentu mungkin harus diperbaiki melalui pembedahan. 
- Gangguan pendengaran dan penglihatan diatasi sebagaimana mestinya. 


PROGNOSIS 
Anak-anak dengan sindroma Down memiliki resiko tinggi untuk menderita kelainan jantung dan leukemia. Jika terdapat kedua penyakit tersebut, maka angka harapan hidupnya berkurang; jika kedua penyakit tersebut tidak ditemukan, maka anak bisa bertahan sampai dewasa. 
Beberapa penderita sindroma Down mengalami hal-hal berikut: 
- Gangguan tiroid 
- Gangguan pendengaran akibat infeksi telinga berulang dan otitis serosa 
- Gangguan penglihatan karena adanya perubahan pada lensa dan kornea 
- Pada usia 30 tahun menderita demensia (berupa hilang ingatan, penurunan kecerdasan dan perubahan kepribadian). 
- Bisa terjadi kematian dini, meskipun banyak juga penderita yang berumur panjang. 


PENCEGAHAN
- Pada keluarga yang memiliki riwayat sindroma Down dianjurkan untuk menjalani konsultasi genetik. 
- Sindroma Down bisa diketahui pada kehamilan awal dengan melakukan pemeriksaan kromosom terhadap cairan ketuban atau vili korion. 
- Resiko terjadinya sindroma Down ditemukan pada: 
  - keluarga yang pernah memiliki anak yang menderita sindroma Down 
  - ibu hamil yang berusia diatas 40 tahun. (SN)

May 6, 2016


SMART NURSE --- Tanpa melihat penyebabnya, gejala Sindrom Nefrotik terdiri dari albuminuria, hipoalbunemia dan oedema masif. Tidak ada hipertensi atau retensi nirogen. Dalam keadaan ini sejumlah protein dikeluarkan melalui urin setiap hari. Walaupun ginjal dapat menahan globulin plasma, namun albumin plasma keluar secara pasif. Konsentrasi albumin dapat menurun sampai dibawah 2 gr per 100 ml, tekanan osmotik dalam darah menurun dan timbullah oedema. Pada Sindroma Nefrotik, ginjal tidak mengeluarkan garam, sehingga terjadi retensi dan menambah terjadinya oedema.

Prinsip pemberian diit pada pasien sindroma nefrotik adalah :

 Makanan tinggi protein, rendah natrium untuk menggantikan yang hilang dan menurunkan retensi cairan
Pemasukan protein harus lebih besar atau sama dengan 1,5 g/kgBB/hari. Harus ditekankan pada pemakaian protein HBV. Kecukupan kalori harus dipenuhi untuk mencegah penggunaan protein sebagai energi (untuk anak-anak 75-100 kkal/kgBB/hari)
Natrium harus dibatasi, biasanya 1000-2000 mg (40-90 mEq)/hari, untuk mengontrol oedema.

• Kontrol hiperlipidemia
Diet harus rendah lemak jenuh dan kolesterol dapat membantu menurunkan kolesterol serum. Karena diet sangat rendah dalam lemak dapat memperburuk hipergliseridemia, pemasukan lemak moderat (sekitar 30-35% dari total kalori) dianjurkan. Selain itu, penurunan berat badan pasien bila diperlukan dapat menolong menurunkan kolesterol serum.

• Pencegahan Hiperglisemia
Pemberian steroid biasanya berhubungan dengan turunnya toleransi glukosa. Untuk mengatasi masalah ini, pemasukan karbohidrat sederhana seperti dessert,minuman ringan harus dikurangi, dan sebagai pengganti harus ditekankan penggunaan karbohidrat kompleks seperti roti, sereal.

• Suplementasi
Suplementasi jarang diperlukan, karena diet dapat dirancang untuk mencukupi semua gizi.
Syarat makanan atau diit :
1.Tinggi protein, : 3,5 gr/KgBB/hari. Untuk pasien bayi hilangnya protein melalui urin dan merangsang pembuluh albumin plasma yang baru
2. Jumlah garam dalam makanan dikurangi
3. Bahan yang tidak mengandung banyak kolesterol dapat diberikan, walapun hal  ini tidak merubah perjalalanan penyakitnya

Contoh menu sehari - hari :
Jam 06.00 : Susu
Jam 08.00 : Nasi, dadar putih telor, keripik tempe, sayur campur
Jam 10.00 : Cendol, pisang
Jam 13.00 : Nasi, ikan teri, tempe goreng, sayur bobor
Jam 16.00 : Kue kacang ijo
Jam 18.00 : Nasi, ikan bumbu, sambel goreng, tempe goreng
Jam 20.00 : susu

SMART NURSE --- Konsep Dasar Penyakit

1. Definisi
Sindrom nefrotik adalah sekumpulan manifestasi klinis yang ditandai oleh proteinuri , hipoalbumin,edema dan hiperkolestrolemia yang diakibatkan oleh gangguan fungsi ginjal ( hilangnya protein melalui ginjal.).

2. Epidemiologi
Kasus sindrom nefrotik 75%-80% merupakan sindrom nefrotik primer dengan kejadian 2-3 kasus/ 100.000 anak /tahun . Pada anak-anak ( < 16 tahun ) paling sering ditemukan nefropati lesi minimal ( 70 %-85% ). Pada orang dewasa  paling banyak nefropati membranosa (30%-50% ) dengan umur rata-rata 30-50 tahun dan perbandingan laki-laki dan wanita 2:1dengan kejadian 3/1000.000 tahun.   

3.Penyebab
Pada anak kelainan nefrotik dengan sebab yang tidak jelas
Pada orang dewasa dapat karena glomerulonefritis proliferatif difus, nefropati ,alergi obat,penyakit metabolik ( DM )

4. Patofisiologi terjadinya penyakit 
Adanya allergen maupun antigen yang masuk ke glumerulus menyebabkan terjadinya reaksi anti gen dan anti bodi ,yang dapat menimbulkan  peradangan glomerulus sehingga terjadi peningkatan permeabilitas membran basal glomerulus terhadap protein plasma dan protein utama yang akan diekskresikan dalam urin ( proteinuri), dengan hilangnya albumin melalui urin menimbulkan hipoalbunema/hipoproteinemia yang akan merangsang pembentukkan lipoprotein di hati sehingga terjadi hiperlipidemia yang akan berpengaruh pada penebalan tunika  intima sehingga dapat terjadi arterosklerosis yang akan meningkatkan tahanan perifir dan menyebabkan  peningkatan tekanan darah.Terjadinya hipoalbuminemia dan pemberian kortikosteroid dapat menyebabkan penurunan sisitem imun yang dapat memudahkan terjadinya infeksi.Disamping itu hipoalbumin juga dapat menurunkan tekanan osmotik sehingga terjadi transudasi ke interstitial yang menimbulkan odema.Dengan adanya transudasi ke interstitial juga menimbulkan hipovolemia yang akan meningkatkan ADH dan Aldosteron sehingga terjadi retensi Na + dan H2O yang akan memperberat odema.Hipovolemia juga dapat menurunkan GFR sehingga dapat terjadi oligouri sampai anuri dan peningkatan ureum yang akan menstimulasi SSP sehingga dapat timbul mual muntah dan peningkatan ureum juga dapat menimbulkan pruritus.
                             
5.Klasifikasi 
Sindrom nefrotik dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Sindrom nefrotik primer ( idiopatik ) yang berhubungan dengan kelainan primer glomerulus dengan sebab yang tidak diketahui secara pasti.
b. Sindrom nefrotik sekunder yang disebabkan oleh penyakit infeksi, keganasan, obat-obatan, penyakit metabolik.

6. Gejala klinis :
    - Proteinuria 
    - Hipoalbuminemi
    - Hiperlipidemi
    - Edema peri orbita, pitting edema,anasarka,asites 

7. Pemeriksaan fisik
 a. Inspeksi :
     Adanya odema pada mata,wajah,perut,tungkai sampai seluruh tubuh
 b. Palpasi
     Adanya pitting odema

8.Pemeriksaan diagnostik
   a. Pemerikasaan laboratorium
       - Urinalisa 
       - BUN / SC
   b. Biopsi ginjal

9. Kriteria diagnosis
Diagnosis sindrom nefrotik dibuat berdasarkan gambaran klinis,  pemeriksaan laboratorium berupa proteinuri massif , hipoalbumin (<3g/dl),edema, hiperlipidemi dan hasil biopsy ginjal.

 10.Therapy
      - Pemberian kortikosteroid
      - Diet tinggi protein rendah garam
      - Pemberian deuritik
      - Pemberian anti hipertensi

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1.Pengkajian
Yang dikaji pada pasien dengan sindrom nefrotik meliputi :
a. Kaji riwayat munculnya gejala seperti perubahan karakteristik urine dan odema.
b. Pemeriksaan fisik dengan mengamati odema.
c. Kaji tanda vital,asupan,pengeluaran,nilai laboratorium dan BB tiap hari
Adapun data yang dikaji meliputi :
d. Data subyektif :
Pasien mengeluh bengkak pada mata,wajah,perut dan pada akhirnya seluruh tubuh, mual,muntah,tidak nafsu makan,lesu,mudah lelah,sakit kepala, pusing, kencing sedikit,menanyakan penyakit
e. Data obyektif :
Odema pada kelopak mata,wajah,perut,skrotum,kedua tungkai,porsi makan tidak habis,proteinuri,hipoalbumin,hiperlipidemia ,hipertensi,oligouri,pruritus,
Berat badan bertambah.

2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
Dari patofisiologi yang ada pada konsep penyakit dapat dimunculkan diagnosa  keperawatan sebagai berikut :
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan  b/d mual dan muntah d/d tidak nafsu makan,porsi makan tidak habis.
b. Perubahan pola eleminasi urin  b/d penurunan GFR d/d oligouri/anuri
c. Resiko infeksi b/d pemberian kortikosteroid dan rendahnya albumin.
d.Kelebihan volume cairan b/d transudasi ke interstitiil d/d odema
e. Kerusakan integritas kulit b/d peningkatan ureum dan retensi Na d/d odema, pruritus.
f.  Cemas b/d perubahan status kesehatan d/d menanyakan penyakit
g.   Hambatan mobilitas fisik b/d kelemahan dan odema d/d pusing,lesu,lelah.
h  Risiko ketidakefektifan program terapeutik b/d kurangnya pengetahuan.
i.  PK hipertensi

3.Rencana Tindakan 
Adapun rencana tindakan yang akan dilakukan disesuaikan dengan diagnosa    keperawatan yang dapat muncul  yaitu :
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah ditandai dengan tidak ada nafsu makan,porsi makan tidak habis.
Tujuan diberikan  tindakan keperawatan yaitu untuk memberikan nutrisi yang adekuat pada pasien
Rencana tindakan  dan rasionalnya
*  Kaji riwayat nutrisi dan makanan yang disukai.
    Rasionalnya  untuk membuat diet yang  sesuai
*  Beri makan sedikit-sedikit tapi sering 
    Rasionalnya untuk mengurangi mual dan nutrisi  dapat terpenuhi.
*  Sajikan makanan bervariasi dan sesuai selera pasien
    Rasionalnya untuk menarik minat pasien untuk makan.
 * Observasi dan catat masukan makanan pasien
    Rasionalnya  untuk mengetahui intake perhari.
 * Berikan dan bantu hygiene mulut sebelum dan sesudah makan  
    Rasionalnya untuk mencegah kerusakan mukosa .
 * Kolaborasi dengan ahli gizi tentang pemberian diet 
    Rasionalnya untuk dapat memberikan nutrisi yang tepat.

b. Kelebihan volume cairan  berhubungan dengan transudasi ke interstitial  ditandai dengan odema
Tujuan diberikan  tindakan keperawatan yaitu untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit pada pasien.
Rencana tindakan dan rasionalnya :
*    Catat intake dan out put 
      Rasionalnya untuk balance cairan
*    Timbang BB tiap hari
      Rasionalnya untuk mengetahui efektifitas terapi dan perawatan
*    Ukur lingkar perut
      Rasionalnya untuk mengetahui derajat asites
*    Kolaborasi pemberian cairan 
      Rasionalnya untuk menjaga keseimbangan cairan
*    Kolaborasi pemberian deuritika
Rasionalnya untuk mengurangi odema
  
 c   Resiko infeksi  berhubungan dengan pemberian kortikosteroid dan rendahnya albumin.
  Tujuan tindakan keperawatan yang diberikan yaitu untuk mencegah terjadinya   infeksi lebih lanjut.
  Rencana tindakan dan rasionalnya :
  *    Kaji tanda-tanda infeksi 
        Rasionalnya untuk mengetahui terjadinya infeksi lebih dini.
  *    Kaji tanda vital 
        Rasionalnya untuk mengetahui keadaan umum pasien.
  *    Pertahankan cara kerja aseptik serta kebersihan lingkungan sekitar
        Rasionalnya   untuk menghindari pertumbuhann kuman sebagai sumber infeksi.
  *    Kolaborasi pemberian albumin dan vitamin
        Rasionalnya untuk meningkatkan daya tahan tubuh 
        
d. Kerusakan  integritas kulit berhubungan dengan retensi Na dan peningkatan ureum ditandai dengan pruritus,odema..
Tujuan tindakan keperawatan yang diberikan yaitu untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Rencana tindakan dan rasionalnya :
*    Kaji warna ,tekstur kulit dan pitting odema
      Rasionalnya untuk mengetahui awal kerusakkan kulit
*    Jaga  kulit untuk tetap bersih dan kering bila perlu pakai talk
      Rasionalnya  mencegah kerusakan lebih lanjut .
*    Hindari penekanan kulit dalam waktu lama dan ubah posisi setiap 2 jam
      Rasionalnya agar sirkulasi darah pada bagian kulit tertentu terjaga.
*    Tinggikan kepala dengan bantal
      Rasionalnya untuk menurunkan odema periorbital
*    Tempatkan bantal di bawah dan diantara kaki
      Rasionalnya untuk menghindarai penekanan.

e. Cemas berhubungan dengan  perubahan status kesehatan ditandai dengan menanyakan penyakitnya.
Tujuan tindakan keperawatan yang  diberikan yaitu mengurangi cemas sehingga pasien mempunyai koping efektif. 
Rencana tindakan dan rasionalnya  :
*    Beri HE tentang pengertian,penyebab,penatalaksanaan penyakit 
      Rasionalnya untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga.

f. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan odema ditandai dengan pusing,lesu,lelah
Tujuan tindakan keperawatan  menghindari komplikasi
Rencana tindakan dan rasionalnya :
*    Pertahankan tirah baring
      Rasionalnya agar tidak memperberat kerja ginjal 
*    Anjurkan melakukan aktivitas hiburan
     Rasionalnya agar pasien tidak merasa bosan di rumah sakit.

g. Risiko ketidakefektifan program terapeutik berhubungan dengan kurangnya pengetahuan .
Tujuan tindakan keperawatan yang diberikan yaitu meningkatkan pengetahuan tentang program pengobatan .
Rencana tindakan dan rasionalnya :
* Bicarakan kemungkinan perubahan-perubahan dalam kondisi yang dapat memberikan dampak pada penatalaksanaan terpeutik.
Rasionalnya setiap perubahan mengenai kondisi pasien dapat mengakibatkan perubahan persepsi pasien terhadap program pengobatan misal odem berkurang dipersepsikan penyakit sudah sembuh total.
* Nasehatkan kontak dini dengan pemberi asuhan untuk membicarakan perubahan atau penatalaksanaan terapeutik.
Rasionalnya meningkatkan pemahaman tentang program pengobatan dan mempersiapkan pasien untuk menerima perubahan.
* Bicarakan bagaimana peningkatan tingkat stres dapat secara negatif mempengaruhi penatalaksanaan yang berhasil sebelumnya.
Rasionalnya stres dapat meningkatkan persepsi negatif terhadap program pengobatan.

h.Perubahan eleminasi urin b/d penurunan GFR d/d oligouri,anuri.
Tujuan tindakan keperawatan yang diberikan yaitu untuk mengetahui dan menjaga keseimbangan cairan.
Rencana tindakan dan rasionalnya :
*   Kaji pengeluaran urin
Rasionalnya untuk mengetahui fungsi ginjal dan keseimbangan cairan
*   Kolaborasi

 i.   PK hipertensi
 Tujuan tindakan keperawatan yang diberikan yaitu mencegah komplikasi 
 Rencana tindakan dan rasionalnya ;
 *   Observasi vital sign 
      Rasionalnya untuk mengetahui adanya perubahan secara dini
 *   Kolaborasi pemberian anti hipertensi
      Rasionalnya menurunkan tekanan darah

                                           
4. Evaluasi  
Yang dievaluasi pada pasien dengan sindrom nefrotik yaitu mengacu pada kriteria tujuan keperawatan sebagai berikut :    
a. Kadar albumin dalam darah meningkat
b. Tidak ada tanda infeksi.
c. Tanda vital stabil
d. Odema hilang
e. Cairan dan elektrolit seimbang  
f. Koping efektif
g. Pengobatan dilaksanakan secara efektif                                                                                                          
 Materi selengkapnya dapat download disini : NEFROTIK SINDROM

Pathway sindrom nefrotik dapat download disini : PATHWAY NEFROTIK

About Me

My photo

Tahun 2004 tamat SMA I di Blora Jawa Tengah

Tahun 2008 tamat S1 Keperawatan di Universitas Diponegoro Semarang

Tahun 2009 tamat Profesi Ners di Universitas Diponegoro Semarang

Tahun 2010 mulai bekerja di RSU Negara - sekarang

Translate

Artikel Terbaru

Artikel Posts

Popular Posts